Bagaimana Jurnalis Mengurangi Ketergantungan kepada Narasumber dalam Menulis Berita

Foto by Paul Bradbury/Getty Image
Mengandalkan bantuan narasumber dalam penulisan berita lumrah terjadi. Hal ini terutama di kalangan jurnalis ekonomi. Jurnalisme ekonomi sering dipandang memiliki karakter khusus, yang membuat jurnalis di bidang ini memerlukan bantuan narasumber untuk menafsirkan data atau peristiwa ekonomi. Narasumber tersebut bisa saja para pengambil keputusan bisnis, regulator di pemerintahan, tenaga profesional, hingga pakar di bidang ekonomi.

Alfonso Vara-Miguel dari Departemen Marketing dan Manajemen Media Universitas Navarra, Spanyol, menunjukkan tiga alasan mengapa jurnalisme ekonomi berbeda dibandingkan jurnalisme umum yang menyebabkan mereka membutuhkan bantuan narasumber. Dalam studinya yang berjudul Sifat dan Tantangan Informasi Ekonomi saat Ini (Naturaleza y retos actuales de la información económica) pada buku Pers dan Jurnalisme Khusus (Prensa Y Periodismo Especializado II) yang disunting oleh C.S. Esables, J.S. Gonzalez dan A.L. R Moraga (2004), Vara menyebutkan sebagai berikut:

Pertama, untuk menjelaskan realitas, jurnalisme ekonomi tidak dapat menghindar dari menggunakan indikator-indikator yang merupakan abstraksi dari beragam proses. Sebagai contoh, untuk menggambarkan kemajuan ekonomi suatu negara, lazim dipakai indikator pertumbuhan Produk Domestik Bruto. Untuk menggambarkan kenaikan harga-harga, dipakai indikator inflasi. Semakin kompleks perekonomian, semakin banyak indikator yang harus dipahami dan jurnalis sering kali tertinggal dalam hal ini.

Kedua, sifat perekonomian yang sistemik yaitu adanya hubungan kausal antara berbagai fenomena ekonomi yang harus dipertimbangkan untuk memahami ekonomi secara keseluruhan.

Ketiga, sebagai konsekuensi dari dua karakteristik yang sudah disebutkan sebelumnya, ekonomi menjadi masalah kompleks sehingga siapa pun memerlukan pelatihan yang cukup agar dapat memahaminya dengan benar. Dalam hal ini jurnalis yang pada umumnya berlatar belakang generalis, terpaksa menoleh kepada para narasumber yang terlatih di bidang ekonomi ketika dihadapkan pada kompleksitas liputan ekonomi. Para narasumber membantu jurnalis memberikan interpretasi atau analisis agar peristiwa dan data yang mereka himpun memiliki makna bagi publik dan jurnalis itu sendiri.

Selain melalui kontak resmi, misalnya lewat tanya-jawab saat jumpa pers, jurnalis meminta bantuan narasumber untuk menjelaskan data dan peristiwa ekonomi lewat kontak-kontak tidak resmi. Jurnalis ekonomi umumnya memiliki daftar narasumber andalan untuk membantu memberikan informasi. Narasumber-narasumber tersebut tersebar di berbagai institusi, mulai dari institusi birokrasi, korporasi, lembaga finansial, pengadilan, hingga pejabat humas.

Relasi jurnalis-narasumber seperti ini sepintas lalu tidak berbeda dengan relasi serupa di kalangan jurnalis pada umumnya. Relasi ini juga memberi manfaat praktis bagi jurnalis ekonomi dalam menjalankan tugasnya. Antara lain, narasumber sering memberikan info-info eksklusif untuk ditindaklanjuti.

Namun, relasi tersebut dapat menciptakan ketergantungan yang disadari atau tidak disadari membuat tujuan utama jurnalisme menjadi melenceng. Salah satunya adalah membuat pemberitaan ekonomi menjadi bersifat elitis dan mengabaikan kalangan yang termarginalkan.

Berbagai studi menunjukkan jurnalisme ekonomi telah menjelma menjadi komunikasi antarelit ketimbang komunikasi elit dengan massa yang diakibatkan oleh pemilihan narasumber yang bias kepada elit. Salah satu studi tentang ini dilakukan oleh Raul Rios Rodriguez dari Universidade de Santiago de Compostela, Spanyol. Studinya yang berjudul Economic Journalism and the Elitist Approach dipublikasikan di Brazilian Journalism Research pada Juli 2021.

Rodriguez meneliti pemberitaan media Spanyol selama krisis ekonomi tahun 2008. Hasil studinya mengukuhkan berbagai temuan studi sebelumnya yang dilakukan oleh para peneliti lain, bahwa sumber-sumber yang dikutip media ekonomi cenderung elitis (pejabat pemerintah, politisi, petinggi perusahaan, pelaku bisnis) dan mengabaikan elemen-elemen yang merupakan representasi masyarakat seperti LSM, serikat buruh, dan organisasi konsumen.

Komunikasi yang dibangun oleh jurnalisme ekonomi menjelma menjadi komunikasi dari dan untuk elit. Narasumbernya dari kalangan elit dan pembaca yang dituju juga kalangan elit sehingga isu-isu yang diangkat tidak menyentuh masyarakat luas.

Selain berpotensi membuat tujuan jurnalisme melenceng, ketergantungan pada narasumber berpotensi mengganggu independensi media dan individu jurnalis. Para narasumber yang menjadi andalan para jurnalis tidak selalu bekerja secara sukarela. Mereka juga memiliki kepentingan. Tidak jarang mereka menanamkan pengaruh dan membangun narasi berdasarkan kepentingan mereka sendiri di balik peran mereka sebagai pemasok informasi ekonomi kepada para jurnalis.

Ini membawa konsekuensi media dan jurnalis menjadi segan melakukan kritik terhadap institusi yang diwakili oleh narasumber demi menjaga akses informasi di masa mendatang. Di sisi lain, ketergantungan yang tinggi membuka potensi narasumber menjadi dominan sehingga jurnalis berisiko terperangkap dalam framing pemberitaan yang dibuat oleh narasumber tanpa sikap kritis.

Ketiga, ketergantungan terhadap narasumber juga akan menghalangi media dan jurnalis membangun kapasitas mereka. Organisasi dan individu jurnalis menjadi kurang memberi perhatian pada pengembangan kualitas internal organisasi maupun sumber daya manusia.

Solusi

Pangkal soal utama – dan sekaligus solusi – dari masalah ini adalah perlunya pelatihan formal dan sistematis bagi para jurnalis ekonomi tentang ekonomi dan jurnalisme ekonomi. Di tengah suramnya bisnis media yang berakibat semakin seringnya pemotongan anggaran pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia, solusi ini mungkin terdengar mewah. Namun tampaknya tidak ada jalan pintas.

Beberapa alternatif pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia yang dapat dilakukan antara lain:

  • Membentuk tim pelatihan internal yang terfokus pada pengembangan kapasitas jurnalisme ekonomi. Tim ini harus mendapat dukungan penuh manajemen dengan target jangka panjang, tanpa menutup kemungkinan membuat target-target jangka pendek dan menengah. Kurikulum dan narasumber tim dapat dikembangkan seiring dengan berjalannya proyek. Tim pelatihan dapat melibatkan tim lain dalam perusahaan yang berkaitan, misalnya, bagian riset ekonomi.
  • Menyediakan beasiswa bagi jurnalis untuk menempuh studi ekonomi dengan target yang spesifik untuk dapat dikembangkan ke dalam organisasi media.
  • Apabila jurnalis mendapat undangan mengikuti pelatihan bermuatan jurnalisme ekonomi yang diselenggarakan oleh pihak ketiga (perusahaan, departemen tertentu), berikan target untuk mengimplementasikan hal yang dipelajari ke dalam organisasi media. Berikan kesempatan kepada peserta untuk mempresentasikan materi yang diperoleh pada rapat redaksi. Bebas tugaskan jurnalis yang mengikuti pelatihan tersebut dari kewajiban menulis berita tentang pelatihan maupun materi berita yang bersumber dari organisasi pengundang, untuk menjaga independensi.
  • Bagi organisasi media yang memiliki anggaran terbatas, perlu mempertimbangkan penajaman spesialisasi. Dengan demikian pengembangan kapasitas jurnalis dapat difokuskan pada spesialisasi yang sudah mengerucut tersebut. Ini dapat mengefektifkan anggaran yang tersedia.
  • Memberi masukan kepada dunia akademik untuk mengembangkan jurusan Jurnalisme Ekonom.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik yang Membuat Merah Telinga para Jurnalis Televisi

Sepotong Kecil Pidato Presiden Prabowo tentang Arti Nama Sri Mulyani