Tren Jurnalisme 2025: Konten Berformat Panjang dan Mendalam akan Berjaya


Prediksi ini hanya lah satu dari banyak peneropongan yang dikemukakan 157 tokoh dan praktisi media dan jurnalisme yang didaulat oleh Nieman Lab untuk memberikannya di laman resmi mereka. Saya tertarik pada prediksi ini, yang dikemukakan secara terpisah oleh dua sosok perempuan, Millie Tran dan Geetika Rudra, karena meniupkan angin segar bagi proponen jurnalisme naratif seperti saya. Keduanya memperkirakan peluang konten panjang dan mendalam -- kerap disebut dengan jurnalisme sastrawi maupun jurnalisme naratif – menuai penggemar pada 2025 sangat terbuka dengan alasan yang berbeda tetapi saling menguatkan.

Millie Tran, chief digital content officer pada Councilon Foreign Relations, AS, mengatakan audiens media dewasa ini semakin ekstrem membuat pilihan konten yang dikonsumsi. Pilihannya hanya dua: konten yang sangat pendek, atau konten yang sangat panjang. Tidak ada pilihan setengah-setengah. Pembaca mengejar breaking news yang singkat, di sisi lain mereka juga senang mendengarkan siniar berdurasi berjam-jam.

Menurut Tran, media harus membuat pilihan diantara keduanya. Merasa mampu menggarap semuanya, menurut dia, akan menumpulkan fokus. Tidak ada tempat bagi cerita yang sedang-sedang saja, cerita yang sangat pendek atau sangat panjang, hanya itu pilihannya.

Tran menyebutnya sebagai strategi barbel. Di ranah finansial strategi barbel dipakai untuk "Berfokus pada hal-hal ekstrem bisa jadi tidak mengenakkan. Namun, hal-hal ekstrem dapat memberikan kejelasan. ....Di satu sisi, ada informasil angsung — yang membantu orang memahami mengapa sesuatu penting secara efisien dan cepat,yang disampaikan melalui format-format pendek yang benar-benar digunakan orang....Di sisi lain, ada pelaporan mendalam dan berwibawa yang mengungkap informasi baru dan mengungkap pola atau menantang kebijaksanaan konvensional, membangun pemahaman bersama yang diperlukan agar demokrasi dapat berfungsi dan masyarakat dapat berkembang," tulis Tran.

Sementara itu Geetika Rudra, founder dan CEO Craft-A-Books, yang menulis buku Here to Stay: Uncovering South Asian American History, mengatakan sudah waktunya jurnalisme kembali ke akarnya. Jurnalisme harus menoleh kembali kepada pertanyaan mengapa manusia tertarik pada jurnalisme, yakni karena rasa ingin tahu, meras aterkoneksi dengan peristiwa, dan keinginan untuk mengungkap kisah-kisah yang belum terungkap. Ia menilai jurnalisme telah kehilangan fokus itu, menggantinya dengan cuplikan berita, dan clickbait. Akibatnya audiens kehilangan kepercayaan.

Pada tahun 2025, kata dia, jurnalisme memiliki kesempatan untuk kembali ke akarnya dengan merangkul tuntutan konsumen akan konten yang panjang, mendalam dan autentik. Menurut dia, audiens mendambakan percakapan yang mendalam "Meskipun ada asumsi tentang rentang perhatian yang semakin menyempit, audiens menunjukkan preferensi yang jelas untuk konten berformat panjang," tulis dia.

Ia menyajikan fakta pendukung: 
  • rata-rata durasi video YouTube dengan performa terbaik adalah 20 menit; 
  • 61% pendengar podcast lebih menyukai episode yang berdurasi lebih dari satu jam; 
  •  penjualan buku cetak nonfiksi diproyeksikan tumbuh sebesar 25% pada tahun 2026; 
  • buletin Substack melampaui 2 juta pelanggan berbayar pada tahun 2023, 
  • dan rata-rata pembaca menghabiskan 12 menit untuk membaca setiap buletin.

Tren ini, kata Rudra, merupakan bukti bahwa ketika kontennya menarik dan autentik, orang bersedia menginvestasikan waktu mereka.

Keberhasilan konten berformat panjang, lebih jauh, menurut Rudra, akan membangun masa depan yang lebih cerah bagi jurnalisme. Jurnalisme format panjang, kata dia, membangun kembali kepercayaan audiens yang selama ini semakin skeptis terhadap berita langsung yang cepat dan narasi yang terlalu disederhanakan. Jurnalisme format panjang — baik melalui siniar, buletin, atau fitur yang diperluas —memungkinkan jurnalis untuk mengeksplorasi topik secara lebih mendalam, membangun kepercayaan dengan menunjukkan semua sisi cerita.

"Podcast dan buletin telah mengajarkan kita bahw aaudiens menginginkan hubungan pribadi dengan pembuat konten mereka. Mereka tidak hanya ingin mengonsumsi berita; mereka ingin merasa menjadi bagian dari cerita tersebut. Ini adalah kesempatan bagi jurnalis untuk membangun hubungan dengan pembaca, pendengar, dan pemirsa mereka dengan berbagi tidak hanya "apa" tetapi juga "mengapa" di balik pelaporan mereka," kata Rudra.

Rudra menekankan membangun kembali kepercayaan terhadap jurnalisme bukan hanya tentang menghasilkan cerita yang lebih baik; tetapi juga tentang membangun kembali hubungan dengan audiens.

"Jurnalisme bentuk panjang menciptakan hubungan itu, menawarkan kepada pembaca, pendengar, dan pemirsa sesuatu yang lebih substansial — perasaan bahwa waktu, perhatian, dan kecerdasan mereka dihargai. Pada tahun 2025, inilah kunci kelangsungan hidup jurnalisme," tutup dia. Semoga menjadi kenyataan.

Selamat tahun baru 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik yang Membuat Merah Telinga para Jurnalis Televisi

Sepotong Kecil Pidato Presiden Prabowo tentang Arti Nama Sri Mulyani