Mengapa Wartawan Ekonomi Harus Membaca Buku Ini

 

Pertama, karena buku ini dapat diunduh dengan cuma-cuma.

Kedua, karena buku ini ditulis oleh 'orang dalam' jurnalisme ekonomi. Henrik Müller berkarier sebagai jurnalis ekonomi selama dua dekade sebelum melanjutkan karier sebagai profesor Economic Policy Journalism di Institute of Journalism and Media TU Dortmund University, Jerman.



Rute pendidikan Muller cukup lengkap. Ia meraih gelar sarjana dan magister di bidang ekonomi di University of Kiel, dan mendapatkan gelar doktor  dari University of the Armed Forces, Hamburg. Pendidikan jurnalistik ia dapatkan di German School of Journalism di Munich.

Meskipun buku ini disajikan layaknya sebuah monograf, di sana-sini Muller melengkapinya dengan komentar dan refleksinya berdasarkan pengalamannya sebagai jurnalis. Ada sentuhan personal yang memancing perasaan terhubung (related) dengan pengalaman sendiri, tetapi tidak mengurangi kadar profesional buku.

Membaca buku ini terasa bahwa  Müller tidak memosisikan diri sebagai professor melainkan sebagai jurnalis. Empatinya pada profesi ini sangat terasa dan bukunya benar-benar ditujukan kepada calon jurnalis, jurnalis,dan khalayak umum memahami profesi jurnalis sebagai sahabat publik.

Ketiga, karena koherensi isi buku. Setiap kali saya membaca buku tentang jurnalisme ekonomi, saya tak pernah dapat menghindar untuk membandingkannya dengan buku yang sangat klasik, "The Columbia Knight Bagehot Guide to Business and Economics Journalism" terbitan University of  Columbia tahun 1991. Buku yang disunting Pamela Hollie Kluge itu saya peroleh ketika mengunjungi kampus itu di New York pada tahun 1997 tatkala saya menjadi peserta International  Visitor Program yang diadakan oleh United State of Information Agency (USIA). Buku terbitan Columbia University itu sangat lengkap, dan advanced. Namun karena ia berbentuk bunga rampai, di sana-sini terasa ada tumpang tindih pembahasan antara satu penulis dengan penulis lainnya. Beberapa buku tentang jurnalisme ekonomi lainnya yang pernah saya baca juga bentuknya kerap sebagai bunga rampai.


Dari sudut ini  buku karya Müller jadi menonjol. Müller sebagai penulis tunggal memiliki kemewahan untuk  menyusun bukunya secara koheren.

Keempat, karena buku ini terbit tahun 2023. Jadi relatif cukup baru. Isu-isu kontemporer seperti tantangan jurnalisme ekonomi di era digital ikut dibahas di buku ini.

Kelima, karena buku ini memberi inside, insight, sekaligus foresight story. Buku ini memberi inside story dalam makna ia menggali fenomena jurnalisme ekonomi dari perspektif orang dalam dengan rincian-rincian yang otentik.

Misalnya, di Bab 2 buku ini, Müller menyajikan taksonomi jurnalisme ekonomi berupa matriks berisi jenis-jenis publikasi jurnalisme ekonomi beserta target audiensnya, kontennya, sudut pandang pemberitaannya dan nilai beritanya. Taksonomi versi Muller benar-benar bersifat praktis, dapat menjadi rujukan segera untuk mereka yang mencoba memulai publikasi jurnalisme bisnis.

Sementara itu di tiga buku ini, Müller mengajukan kriteria nilai berita jurnalisme ekonomi yang menarik. Ia menyebutnya dalam bentuk singkatan, ESFF yang terdiri dari Efficiency, Stability, Sustainability, dan Fairness. Nilai berita jurnalisme ekonomi bertumpu pada empat nilai berita ini. Konflik yang layak berita selalu menyangkut hal ESFF.

Efficiency berarti tidak boleh ada pemborosan sumber daya ekonomi; semakin banyak pendapatan dan pertumbuhan, semakin baik bagi publik.

Stability artinya  tidak adanya pergerakan pasar yang tidak menentu yang menghambat kelancaran fungsinya dan dapat menyebabkan gangguan ekonomi dan sosial.

Sustainability berarti penggunaan sumber daya alam yang berlebihan dan merusak tidak diinginkan, karena menyebabkan kelangkaan di masa mendatang.

Fairness berarti penilaian terhadap sejauh mana sebuah peristiwa terkait dengan eksploitasi dan tindakan melampaui batas dalam bentuk apa pun yang diakibatkan oleh distribusi kekayaan, kekuasaan, atau informasi yang tidak seimbang.


Sementara itu tebaran insight story dapat ditemukan di berbagai halaman buku ini. Misalnya, dari sejarah pers di Eropa, khususnya Belanda dan Inggris, Müller bisa menyingkap kenyataan bahwa pada awalnya jurnalisme yang kredibel dan dipercaya di Eropa adalah jurnalisme bisnis.  Setelah publikasi jenis ini berkembang, muncul keinginan memperluas pasar dengan melebarkan cakupan liputan ke isu yang lebih umum. Ini barangkali sedikit berkebalikan dengan rute yang ditempuh pers Indonesia; sebagian besar media ekonomi di Indonesia didirikan oleh penerbit yang sebelumnya menggeluti media yang bersifat umum.

Salah satu foresight story yang disajikan Müller dalam buku ini ialah tentang tantangan jurnalisme ekonomi di masa sekarang dan nanti. Ia mengatakan saat ini jurnalisme ekonomi menghadapi dua isu besar, yaitu economization dan mediatization. Economization berarti semua aspek dalam kehidupan manusia semakin memiliki dimensi ekonomi. Sedangkan mediatization bermakna semua orang juga semakin berperan sebagai sumber informasi.

Jurnalisme ekonomi berada pada dua kecenderungan ini: di satu sisi semua isu dapat menjadi isu ekonomi di sisi lain semua orang dapat membicarakannya menurut versi masing-masing. Dalam hal ini, Müller berpendapat bahwa jurnalisme ekonomi harus mempertahankan dirinya sebagai pemegang mandat kepercayaan publik, ia harus akurat menunjukkan dan menyajikan fakta.

Eben E. Siadari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik yang Membuat Merah Telinga para Jurnalis Televisi

Sepotong Kecil Pidato Presiden Prabowo tentang Arti Nama Sri Mulyani